Periode Khulafaur Rasyidin

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakrtuh

Khulafaur Rasyidin adalah para khalifah pengganti Nabi yang dikenal sangat arif dan bijaksana. Mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khatthab, Utsman Bin ‘Affan dan Ali Bin Abi Thalib.

Jabatan sebagai Khalifah bukanlah jabatan warisan turun temurun sebagaimana jabatan raja-raja Romawi dan Persia, tetapi dipilih secara demokratis. Ketika Nabi Muhammad meninggal, permasalahan pertama yang dihadapi umat islam adalah siapa pengganti Nabi sebagai pimpinan negara Madinah (khalifah).

Persoalan politik ini begitu penting sehingga penguburan jenazah Nabi tertunda karena para penguasa di Madinah sedang dalam kesibukan sosial-politik besar untuk menentukan kepala negara.

Khalifah Abu Bakar As-Shidiq

Khalifah pertama sebagai pimpinan negara Madinah pasca Nabi adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq yanga memerintah dari tahun 632-634 M. Gelar Ash-Shiddiq merupakan gelar prestise religius karena Abu Bakar selalu membenarkan apa yang disabdakan Nabi dan tidak pernah meragukannya.

Abu Bakar adalah figur yang disegani, sahabat kepercayaan Nabi dan sekaligus menjadi mertua Nabi yang putrid kesayangannya Aisyah menjadi istri Nabi SAW. Sebagai pengganti Nabi memimpin negara Madinah, Abu Bakar mendapat gelar Khalifah ar-Rasul (pengganti Rasul) sedangkan pemerintahannya disebut khilafah.

Tugas Khalifah Abu Bakar

Secara sosial-politk, tugas utama Abu Bakar adalah meneruskan perjuangan sosial-politik Nabi dalam kerangkan dakwah Islam. Abu Bakar melanjutkan penyampaian syi’ar Islam kepada negara-negara yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan mengirim utusan-utusan ke Raja Persia, Ethiopia, Aleksandria, gubernur Bizantium dan sebagainya.

Penulisan Mushaf Al-Qur’an

Peran sejarah Abu Bakar adalah bahwa pada era kekhalifahannya ini, Abu Bakar sebagai kepala negara dan pemerintahan Madinah membentuk tim pengumpulan tulisan-tulisan ayat-ayat suci Al-qur’an yang tercecer yang pernah ditulis era Rasul.

Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai ketua Tim. Zaid bin Tsabit sendiri merupakan salah satu sahabat yang menjadi sekretaris Rasul yang ditugaskan untuk menuliskan wahyu Al-Qur’an.

Teks Al-Qur’an kemudian dibakukan pada era pemerintahan Utsman bin Affan untuk menjaga kesatuan. Teks ditulis dan dicetak serta disebarluaskan di seluruh penjuru atas perintah Utsman Bin Affan untuk menjadi pegangan tertulis bagi umat Islam.

Khalifah Umar Bin Khatab

Setalah dua tahun memimpin negara Madinah dan memantapkan kepemimpinan Madinah dalam sebuah masyarakat tunggal yang mempersatukan seluruh Arabia, Abu Bakar meninggal.

Sebelum meninggal, Abu Bakar sempat bermusyawarah dengan sejumlah tokoh sahabat dan klan-klan terkemuka di Madinah dan menunjuk Umar Bin Khattab sebagai khalifah.

Penunjukan ini menjadi efektif karena disetujui oleh umat dan Umar memperoleh sumpah setia (bai’at) dari umat. Pada era khalifah Umar Bin Khattab ini (634-644 M). Pada masa Umar ini, gelar Amirul Mukminin (pemimpin umat Islam) dilegal formalkan.

Perluasan Wilayah Penyebaran Islam

sebagai gelar khalifah. Dalam konstelasi sosial politik dan keagamaan, khalifah Umar memperoleh hasil yang cukup gemilang yaitu Islam telah tersebar ke Mesir, Palestina, Suriah, Irak dan Persia.

Keberhasilan dakwah ini sekaligus merupakan keberhasilan penataan kebudayaan Islam dan perluasan teritorial Islam sejak Umar Bin Khattab mencanangkan program ekspansi (futuhat). Ide malakukan ekspansi ini merupakan ide gemilang dalam kerangka dakwah dan teritorial guna membangun peradaban.

Dalam menjalankan roda pemerintahan, Umar terkenal memiliki mental mujtahid (menggunakan nalar) untuk membangun peradaban dan syi’ar Islam. Umar dikenal sosok yang memimpin dengan logika yang sangat progresif dan telah meletakkan fondasi dasar pemerintahan Islam yang sangat luas.

Akhir Pemerintahan Umar Bin Khatab

Pada akhir pemerintahannya, Umar memilih sejumlah orang sebagai tim untuk memilih khalifah yang baru dan memberikan syarat agar puteranya tidak dipilih menjadi penggantinya, sebagaimana raja-raja yang mewariskan tahta secara turun temurun.

Khalifah Utsman Bin Affan

Utsman Bin Affan terpilih menjadi khalifah (644-656 M). Utsman sendiri bukan dari keluarga Bani Hasyim, tetapi dari keluarga Bani Umayah. Utsman juga tidak pernah mengatakan bahwa kekhalifahannya adalah kekhalifahan bani Umayah.

Sebaliknya, Utsman melanjutkan tradisi pendahulunya bahwa kekhalifahan yang dipimpinnya adalah kekhalifahan milik umat Islam, dan bukan milik klan tertentu. Orientasi plitik Utsman dapat meredam berbagai kelompok masyarakat bani Hasyim yang menginginkan khalifah dari bani Hasyim.

Prestasi Kepemimpinan Utsman Bin Affan

Prestasi gemilang Utsman adalah mampu melanjutkan kebijakan strategis Umar Bin Khattab dalam melakukan ekspansi (futuhat) sehingga khilafah mampu mengembangkan sayapnya hingga Tripoli, kepulauan Siprus, Armenia dan Kaukasia (di sebalah barat) serta Persia timur, India dan Herat (di sebelah timur).

Kemampuan membangun angkatan laut juga menjadi prestasi tersendiri bagi khalifah Utsman. Kegemilangan pemerintahan khalifah Utsman ini terjadi pada 6 tahun pertama dari 12 tahun masa pemerintahannya.

Pada 6 tahun kedua pemerintahannya, khalifah Utsman dilanda persoalan intern besar karena bersikap nepotisme dengan mengangkat gubernur-gubernur dari keluarga keturunan Umayah.

Khalifah Ali Bin Abi Thalib

Sejak khalifah Utsman meninggal maka kekhalifahan dipegang oleh Ali Bin Abi Thalib55 (656-661 M) yang diumumkan di Madinah dan mendapat dukungan dari bani Hasyim dan mayoritas umat Islam di Madinah.

Bahkan pendukung fanatik Ali (Syi’at ‘Ali) sebagai embrio kaum Syi’ah memiliki pandangan yang sangat radikal yaitu bahwa Ali merupakan keluarga Bani Hasyim, sepupu Nabi, menantu Nabi (karena menikah dengan Fathimah binti Rasul) lebih berhak menjadi khalifah ketimbang Abu Bakar. Umar dan Utsman.

Tetapi Ali gagal merangkul Mu’awiyah, kerabat Utsman yang menjabat sebagai gubernur Syiria. Bahakn Mu’awiyah, atas nama keluarga bani Umayah menuntut balas atas kematian Utsman.

Mulai timbul konflik

Pada era khalifah Ali, perseteruan politik intern umat Islam semakin menonjol, misalnya terjadi konflik dan peperangan antara khalifah Ali dengan Aisyah, Tholhah dan Zubair dalam perang unta (perang jamal) serta peperangan antara Ali dengan Mu’awiyah (perang shiffin) yang berakhir dengan tahkim (arbitrage) dan berimplikasi pada munculnya aliran-aliran pemikiran teologi Islam.

Apa yang perlu menjadi catatan adalah bahwa Khulafaur Rasyidin sebagai Amirul Mukminin tidak pernah membentuk dinasti. Hal ini sekaligus mewarisi pola pergantian kepemimpinan politik Nabi yang tidak pernah mewariskan tahta kekuasaan politik kepada keturunannya.

Sistem pemerintahan dinasti klan baru muncul sejak Mu’awiyah mendirikan dinasti Umayah. Sejak Mu’awiyah dan keturunanya ini, sistem kepemimpinan kharismatik khilafah awal telah diubah menjadi sistem monarki berbasis pada klan.

 

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>