Ciamik! 7 Macam Upacara Adat Sulawesi Selatan

Upacara Adat Sulawesi Selatan

Pulau Sulawesi yang terletak di kawasan timur Indonesia, memiliki beragam kearifan lokal yang cukup unik. Misalnya saja, tradisi adat di Sulawesi Selatan yang cukup bagus untuk dipelajari. Sebab, di dalamnya menyimpan warisan para leluhur secara turun-temurun.

Masyarakat setempat, dikenal masih teguh menjalankan tradisi nenek moyang ini. Sehingga, menjadikan keberagaman yang menarik dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia.

Nah, berikut ini adalah daftar beragam upacara adat Sulawesi Selatan tersebut, lengkap dengan gambar dan penjelasannya.

Jenis dan Penjelasan Upacara Adat Sulawesi Selatan

1. Ma’nene’ di Toraja

02 Ma’nene’ Di Toraja

Masyarakat Toraja akan menylenggarakan Upacara Ma’nene’ sebagai wujud kecintaannya terhadap para leluhur yang sudah meninggal dunia.

Tradisi ini dintandai dengan bentuk ziarah makam, lalu peti jenazahnya dibuka untuk mengganti pakaian dan sarung jenazah. Sesudah itu, jenazah akan dijemur beberapa waktu, lalu dimasukkan lagi ke dalam peti.

Budaya semacam ini memang umum di lakukan di Sulawesi Selatan, di samping budaya dan adat lainnya. Untuk mempelajari hal ini, kamu bisa masuk ke portal Selasar.com. Situs ini menyediakan banyak tema lengkap tentang budaya Indonesia, yang salah satunya adalah Tari Merak.

2. Rambu Tuka

01 Rambu Tuka

Tradisi Rambu Tuka umumnya diadakan oleh suku Toraja. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk syukur setelah atap tongkonan diganti, pasca pernikahan, ataupun setelah panen.

Upacara ini dihadiri oleh semua anak keturunan keluarga. Oleh karenanya, Rambu Tuka juga bisa dijadikan moment masyarakat Toraja untuk mempererat jalinan silaturahim bersama sanak famili.

3. Mallangiri Arajange di Soppeng

03 Mallangiri Arajange Di Soppeng

Untuk mencuci benda-beda pusaka, Kerajaan Soppeng di Sulawesi Selatan memiliki tradisi yang dinamakan Mallangiri Arajange.

Dalam kesempatan ini, roh nenek moyang juga akan dipanggil dari empat penjuru. Selain itu, seekor kerbau akan dipotong juga sebagai persembahan, serta diadakan atraksi bissu, yakni atraksi untuk memadamkan pai menggunakan kaki telanjang.

4. Mattompang Arajang di Bone

03 Mallangiri Arajange Di Soppeng

Setiap hari jadi Kabupaten Bone, selalu diadakan upacara Mattompang Arajang. Tradisi tahunan ini dilaksanakan dengan agenda utama berupa pencucian benda-benda pusaka milik Kerajaan Bone. Untuk membersihkannya, dipakai air dari sumur tua, yang sebelumnya sudah dibacakan lantunan do’a.

5. Mattombang di Luwu Utara

05 Mattombang Di Luwu Utara

Di daerah Luwu Utara, untuk upacara pembersihan benda pusakan, dinamakan Upacara Mattombang. Prosesi ini merupakan upacara adat yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Umumnya, kegiatan Mattombang dilakukan menurut perhitungan kalender masa penanaman padi warga setempat.

6. Accera’ Kalompoang di Gowa

06 Accera’ Kalompoang Di Gowa

Prosesi Accera’ Kalompoang rutin diadakan tiap tahun pada momen hari raya Idul Adha. Bertempat di Istana Balla Lompoa ri Gowa, acara ini dimaksudkan sebagai persembahan untuk kebesaran Kerajan Gowa.

Tradisi adat ini diadakan selama 2 hari berturut-turut. Acaranya ditandai dengan penyembelihan kerbau, barzanji, serta pemanggilan roh leluhur pada hari pertama. Sedangkan di hari kedua, diadakan pengambilan air dise buah sumur tua di Katangka, Gowa. Selanjutnya, air tersebut akan diarak oleh masyarakat dengan mengenakan baju adat.

7. Mappadekko di Takalar

07 Mappadekko Di Takalar

Masyarakat di Galesong, Takalar akan mengadakan upacara Mappadekko tiap-tiap panen raya. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk syur, yang dilaksanakan dengan cara aksi saling gebuk antar peserta, mamakai batu kali dan balok kayu.

Meski saling hantam sampai balok patah sekalipun, para peserta tidak ada yang merasakan sakit ataupun jatuh terluka. Prosesi ini diawali dengan berziarah ke makam leluhur, Lo’mo Sampulungang atau kepala adat kampung di Sampulungang, Galesong, Kab. Takalar.

Demikianlah uraian tentang upacara adat Sulawesi Selatan. Semoga informasi yang kami sampaikan di atas bermanfaat bagi pembaca sekalian. Kami pun juga berharap, semoga tulisan ini menjadi salah satu langkah dalam melestarikan budaya dan adat bangsa Indonesia. Terima kasih.

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>